RSS Feed

Kamis, 21 Januari 2010

makalah KBM









KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan nikmatnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ” DAMPAK SINERGI YANG DILAKUKAKAN DENGAN EMPATI UNTUK MENCAPAI SUKSES SECARA BERSAMA” ini.
Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari banyak terdapat kesalahan dan kami menyadari bahwa kami ini belum sempurna dalam penyusunannya. Maka dari itu, kami minta kritik dan saran dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Atas perhatian dan bantuannya kami mengucapkan terima kasih.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
A. ANALISA MASALAH 3
B. LATAR BELAKANG MASALAH 4
C. PEMBAHASAN MASALAH
o Pengertian Empati 7
o Perlunya Empati Dalam Pencapaian Sukses 9
o Empati Dalam Pembelajaran 10
o Mengasah Empati 11
o Jalan Menuju Sukses 12
o Sepuluh Tips Empati 13
D. PENUTUP
o Kesimpulan 20
o Saran – Saran 20


ANALISA MASALAH

Sebagaimana kita ketahui dalam penulisan makalah ini kami merumuskan masalah sebagai berikut :
a. Sejauh mana seseorang mengerti akan arti Empati
b. Bagaimana cara mengasah empati untuk mencapai sukses secara bersama



PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Belakangan ini praktik kehidupan yang terpampang di atas panggung peradaban makin liar dan buas saja. Praktik kekerasan dan vandalisme (hampir-hampir) menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan dalam dinamika perjalanan bangsa ini. Lihat saja di layar TV! Kotak ajaib itu seolah-olah sudah belepotan darah setiap hari. Tawuran antarkampung, perampokan, pencurian, penggusuran, pemerkosaan, dan lain-lain sudah menjadi berita jamak sehari-hari. Becermin dari berbagai kejadian tragis itu, ada sebuah pertanyaan yang mengusik nurani kemanusiaan kita. Benarkah kita telah kehilangan empati terhadap sesama sehingga demikian tega menyakiti dan tak peduli lagi terhadap penderitaan hidup sesama?
Banyak pertanyaan yang bisa dikemukakan, mengapa sikap empati kita terhadap sesama seolah-olah sudah terkikis dari dinding hati dan nurani kita. Seiring dengan merebaknya pola dan gaya hidup materialistis, konsumtif, dan hedonistis, yang melanda masyarakat kita belakangan ini, diakui atau tidak, telah membikin perspektif kita terhadap nilai-nilai kemanusiaan menyempit. Kesibukan berurusan dengan gebyar duniawi, disadari atau tidak, telah membuat kita abai terhadap persoalan esensial yang menyangkut interaksi dan komunikasi sosial terhadap sesama. Jangankan mengurus nasib orang lain, mengurus diri sendiri saja masih payah? Mengapa kita mesti repot-repot merogoh uang recehan untuk gelandangan dan pengemis kalau mencari duwit haram saja sulit? Mengapa kita susah-payah membantu korban kecelakaan lalu lintas kalau pada akhirnya kita mesti repot-repot memberikan kesaksian di depan aparat yang berwenang? Kenapa kita mesti membebani diri mengurus anak-anak telantar dan yatim piatu kalau setiap pagi kita masih kerepotan memberikan uang saku untuk sekolah anak-anak kita?
Di mata dunia, sebenarnya bangsa kita sudah lama dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi dengan entitas kesetiakawanan sosial yang kental, tidak tega melihat sesamanya menderita. Kalau toh menderita, “harus” dirasakan bersama dengan tingkat kesadaran nurani yang tulus, bukan sesuatu yang dipaksakan dan direkayasa. Merasa senasib sepenanggungan dalam naungan “payung” kebesaran” religi, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan. ltulah yang membuat bangsa lain menaruh hormat dan respek. Semangat “Tat twan Asi” (Aku adalah Engkau) –meminjam terminologi dalam ajaran Hindu–, telah mampu menahbiskan rasa setia kawan menjelma dan bernaung turba dalam dada bangsa kita, sehingga mampu hidup damai di tengah-tengah masyakarakat multikultur.
Namun, merebaknya “doktrin” konsumtivisme, agaknya telah telanjur menjadi sebuah kelatahan seiring merebaknya pola hidup materialistik dan hedonistis, yang melanda masyarakat modern. Manusia modern, menurut Hembing Wijayakusuma telah melupakan satu dari dua sisi yang membentuk eksistensinya akibat keasyikan pada sisi yang lain. Kemajuan industri telah mengoptimalkan kekuatan mekanismenya, tetapi melemahkan kekuatan rohaninya. Manusia telah melengkapinya dengan alat-alat industri dan ilmu pengetahuan eksperimental dan telah meninggalkan hal-hal positif yang dibutuhkan bagi jiwanya. Akar-akar kerohanian sedang terbakar di tengah api hawa nafsu, keterasingan, kenistaan, dan ketidakseimbangan.
Akibat pemahaman pola hidup yang salah semacam itu, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan nurani dan moral serta religi. Sikap hidup instan telah melenyapkan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat, yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis, dan serba cepat. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur di sekitarnya. Budaya suap, kolusi, nepotisme, atau manipulasi anggaran sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk mengegolkan ambisi tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut etika.
Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, luput dari perhatian. Fenomena tersebut jelas mengingkari makna kesetiakawanan sosial yang telah dibangun para founding fathers kita, mengotori kesucian darah jutaan rakyat yang telah menjadi “tumbal” bagi kemakmuran negeri ini.
Sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi di mata dunia, bagaimanapun harus memiliki good will (kemauan baik) untuk mengondisikan segala bentuk penyimpangan moral, agama, dan kemanusiaan, pada keagungan dan kebenaran etika yang sudah teruji oleh sejarah. Budaya kita pun kaya akan analogi hidup yang bervisi spiritual dan keagamaan. Jika kultur kita yang sarat nilai falsafinya itu kita gali terus, niscaya akan mampu menumbuhkan keharmonisan dan keseimbangan hidup, sehingga mampu mewujudkan paguyuban hidup sosial yang jauh dari sikap hipokrit, arogan, dan bar-bar.
Yang kita perlukan sekarang adalah bagaimana menumbuhsuburkan nilai-nilai empati itu dari generasi ke generasi. Secara naluriah, manusia membutuhkan pengakuan dan pengertian. Kedua kata inilah yang selama ini, disadari atau tidak, telah hilang dalam kamus kehidupan kita. Empati sangat membutuhkan kehadiran dua kosakata indah ini. Merebaknya berbagai praktik kekerasan dan vandalisme pun sebenarnya disebabkan oleh runtuhnya pilar pengakuan dan pengertian tadi. Kita makin tidak intens dalam mengakui keberadaan orang lain dan makin tidak apresiatif untuk mengerti keberadaan orang lain.
Proses penanaman dan pengakaran nilai-nilai empati itu, menurut penafsiran awam saya, perlu dibumikan lewat dunia pendidikan. Di balik tembok sekolah itu jutaan anak bangsa yang kini tengah gencar memburu ilmu perlu diperkenalkan secara intensif tentang makna pengakuan dan pengertian –sebagai pilar sikap empati– dalam kegiatan pembelajaran. Supaya tidak menimbulkan kejenuhan, perlu strategi penanaman dan pengakaran nilai empati yang tepat dan variatif sehingga tidak terjebak pada indoktrinasi seperti orang berkhotbah.
Idealnya proses penanaman dan pengakaran nilai empati itu dilakukan lintas mata pelajaran oleh seluruh guru, bukan hanya menjadi tanggung jawab guru PKn saja. Setiap guru mata pelajaran hendaknya mengaitkan secara kontekstual antara materi yang disajikan dan nilai-nilai empati yang relevan.
Tentu saja, penanaman dan pengakaran nilai empati itu perlu ditindaklanjuti dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat perlu memberikan teladan bagaimana menerapkan nilai empati itu kepada sesama. Jika sinergi itu berhasil, saya kira dalam beberapa tahun mendatang negeri ini akan dihuni oleh anak-anak bangsa yang memiliki sikap empati tinggi sehingga selalu memiliki kepekaan terhadap nasib sesama. Imbasnya, praktik kekerasan dan vandalisme yang jelas-jelas telah menodai citra luhur kemanusiaan bisa terkikis hingga ke akar-akarnya. Imbasnya, sesama anak bangsa bisa hidup nyaman dan damai di tengah-tengah lingkungan masyarakat multukultur.Berikut Pembahasan masalah DAMPAK SINERGI YANG DILAKUKAKAN DENGAN EMPATI UNTUK MENCAPAI SUKSES SECARA BERSAMA :

B. PENGERTIAN EMPATI.......?
Pernahkah anda belajar mengenai Empati ? Mungkin anda bertanya – tanya apakah itu Empati ? Well …saya mengangkat topik ini untuk memperjelas, mempermudah dan untuk dimengerti lebih lanjut. Karena menurut saya pribadi merasa sangat perlu untuk di bahas dan disimak. Walaupun cuman satu kata, makna yang terkandung dan fungsinya sangat besar di kehidupan kita sehari – hari.
Empati adalah pondasi dari semua interaksi hubungan antar manusia. Mampu merasakan kondisi emosional orang lain, maka kita bisa membina relationship yang akrab dengan orang lain. Bisa diumpamakan sebagai berikut, hari ini … anda sedang bekerja dan kemudian karena ada sesuatu hal yang menganggu aktifitas kerja hingga akhirnya mengalami penurunan aktifitas hingga akhirnya terjadi konflik dengan rekan kerja hingga dengan pimpinan disuatu perusahaan. Kemudian setelah pulang kerja, bertemu dengan teman anda dan anda diajak bareng untuk “hang out” bersama teman anda, namun teman anda merasakan anda sedang dalam kondisi gelisah, oleh karena itu teman anda mengontrol keinginannya untuk “hang out” bersama anda dan mengajak sharing tentang masalah anda. Hal itu bisa dikatakan curhat atau sharing. Namun bila teman anda tidak ada rasa empati, maka raut muka anda menjadi tambah gelisah dan tidak tenang. Maka anda merasa tidak cocok dengan teman anda, sehingga membuat perasaan jengkel dan tidak senang. Dari contoh ini bisa ditebak, hal apa yang akan terjadi tidak ada rasa saling memahami seseorang atau orang lain.
Maka dari itu cara paling baik memahami orang lain adalah dengan mengembangkan empati dalam diri anda. Empati berbeda dengan simpati. Simpati itu berusaha memahami keadaan orang lain dengan persepsi anda, bagaimana perasaan anda ketika anda berada dalam situasi yang sedang saya hadapi. Empati lebih dalam daripada simpati, empati menuntut anda berusaha memahami keadaan orang dari sudut pandang orang tersebut. Seseorang yang memiliki sikap empati lebih mudah memotivasi orang lain.
Empati dibutuhkan untuk melahirkan rasa saling memahami. Karena itu, cara praktis meraih empati adalah dengan mendengarkan orang lain dengan hati. Anda tidak sekadar mendengar “apa” yang ia sampaikan tetapi mendengarkan “bagaimana” dia menyampaikannya. Perhatikanlah bahasa tubuh yang dia gunakan, itu lebih menggambarkan bagaimana perasaannya sebenarnya.
Setiap kasus masalah hidup yang ada sekarang ini beraneka ragam. Hendaknya dicermati terlebih dahulu bila ada permasalahan. Mengenai Empati ini ada titik kelemahan, dimana anda mengembangkan empati di diri anda, jangan sampai dimanfaatkan. Sering kali kejadian itu bisa berakibat kembali ke diri anda sendiri. Niat ingin ikhlas membantu malah kena getah pahit. Tapi itu semua tergantung anda dalam hal menyikapinya dan menyelesaikannya. Well … Bukankah sangat menyenangkan bila ada orang yang memahami anda tanpa anda menjelaskan perihal keadaan sebenarnya
Menurut Wikipedia, empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan/emosi orang lain. Empati dapat juga diartikan kesanggupan untuk turut merasakan apa yang dirasakan orang lain dan kesanggupan untuk menempatkan diri dalam keadaan orang lain.Empati membuat kita dapat turut merasa senang dengan kesenangan orang lain, turut merasa sakit dengan penderitaan orang lain, dan turut berduka dengan kedukaan orang lain.
Salah satu cara terbaik untuk mengajar mahasiswa berempati ialah dengan bermain peran (role play).Dengan bermain peran, mahasiswa diajak untuk mengalami dunia dari sudut pandang orang lain. Dengan membayangkan bahwa dirinyalah yang menjadi orang tersebut, ia bisa melihat dari mata orang tersebut, bersikap seperti orang tersebut, dan bisa menyelami perasaan orang itu (be other person). Adalah penting dalam permainan peran ini bahwa mahasiswa mendapat kesempatan untuk mencoba peran yang tidak biasa baginya, sehingga ia belajar melihat dari sudut pandang orang lain. Kejadian sehari-hari dapat juga digunakan sebagai latihan empati. Misalnya, saat dosen meminta mahasiswa untuk mengecilkan suara atau mematikan nada dering handphone-nya, ia perlu mengatakan kebutuhan dan perasaannya, serta menjelaskan akibat yang dirasakan oleh mahasiswa lain dari suara bising ringtone tersebut. Keterangan ini membuat mahasiwa merespons berdasarkan rasa peduli akan suasana kelas yang nyaman dan bukan karena rasa takut dimarahi. Daniel Goleman, dalam buku Emotional Intelligence, mengemukakan, empati memungkinkan seseorang untuk menghayati masalah atau kebutuhan yang tersirat di balik perasaan orang lain, yang tidak hanya diungkapkan melalui kata-kata. Melalui empati, kita tidak hanya keluar diri dalam usaha memahami orang lain, tetapi juga melakukan pemahaman internal terhadap diri sendiri.


C. PERLUNYA EMPATI DALAM PENCAPAIAN SUKSES

1. kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda akan mendorong mahasiswa mampu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan mobilitas pikirannya, mahasiswa dapat menempatkan diri pada posisi perannya sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.

2. mampu berempati mendorong mahasiswa tidak hanya mengurangi atau menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi juga ketidaknyamanan perasaan melihat penderitaan orang lain. Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.

3. kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat mahasiswa menyadari bahwa orang lain dapat membuat penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari serta memperhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya. Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik, dimanifestasikan dalam sifat optimistis, fleksibel, dan emosi yang matang. Jadi, konsep diri yang kuat, melalui proses perbandingan sosial yang terjadi dari pengamatan dan pembandingan diri dengan orang lain, akan berkembang dengan baik.

D. EMPATI DALAM PEMBELAJARAN

Berempati berarti mempersepsikan kerangka pikir internal orang lain secara tepat yang mencakup unsur-unsur emosional dan cara-cara bertingkahlaku, disertai dengan kepedulian seolah-olah diri sendiri adalah orang lain yang sedang dipersepsi tetapi tanpa kehilangan kesadaran sedang mengandaikan sebagai orang lain. Dengan kata lain, berempati adalah mengandaikan diri kita sebagai orang lain tanpa larut secara emosional dalam kondisi orang yang diandaikan. Empati terbukti menjadi bagian penting dalam proses belajar mengajar. Untuk menjadi pengajar yang efektif, orang perlu memiliki kemampuan ini. Seorang dosen memerlukan empati untuk memahami kondisi mahasiswanya untuk dapat membantunya belajar dan memperoleh pengetahuan. Dosen yang tidak memahami perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, motif-motif dan orientasi tindakan mahasiswanya akan sulit untuk membantu dan memfasilitasi kegiatan belajar mahasiswanya. Empati, baik untuk dosen maupun mahasiswa, semakin diperlukan dalam pendidikan dalam upaya mencapai keberhasilan proses pembelajaran. Beberapa indikator atau karakteristik dari mahasiswa yang sukses adalah berpengetahuan, mampu menentukan diri sendiri, strategis dan empatik. Empati, juga penting bagi para profesional, karena para profesional yang sukses dalam bidang apapun (termasuk dosen sebagai peneliti dan akademisi) menunjuk kemampuan komunikasi agar sukses dalam pekerjaannya. Mereka juga mampu memandang diri sendiri dan dunia dari sudut pandang orang lain. Artinya mereka mampu mencermati dan menilai keyakinan-keyakinan dan keadaan-keadaan orang lain dengan tetap berpegang kepada tujuan mengembangkan pemahaman dan penghargaan. Mahasiswa yang sukses pun menunjukkan kemampuan ini. Mereka menilai positif kegiatan berbagi pengalaman dengan orang-orang yang berbeda latar belakang untuk memperkaya diri mereka.


E. MENGASAH EMPATI

Empati dapat kita analogikan dengan pisau. Ketika sebuah pisau diasah, maka dia akan semakin tajam, begitu juga dengan rasa empati yang dimiliki manusia. Ketika sebuah pengalaman mengantarkan seseorang untuk berbuat lagi dan lagi, maka empati akan tumbuh dengan suburnya. Al Qur’an telah mengajarkan bahwa manusia itu ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit, maka rasa sakit itu pula akan dirasakan oleh anggota tubuh yang lain. Artinya, ketika seorang manusia merasakan sakit, maka manusia yang lain juga akan ikut merasakan hal yang sama. Itulah empati. Perasaan yang lebih dalam dari pada simpati dan tidak didapat secara mudah. Orang yang memiliki kasih sayang tinggi biasanya juga memiliki ingatan jangka panjang yang lebih baik. Sebab itu jika dosen berhasil menanamkan kasih sayang di antara mahasiswanya (dalam konteks yang positif), dan dosen juga mengajar dengan penuh kasih sayang kepada mahasiswanya, maka keberhasilan mahasiswa dalam belajar akan lebih baik. Sikap yang baik untuk berkasih sayang ini dapat dicapai melalui pembiasaan ber-empati kepada orang lain. Apabila setiap dosen dan mahasiswa mengembangkan sikap empati ini, saling menghargai dan saling menghormati, maka sikap saling membantu akan terwujud, dan kelas yang demikian pasti akan solid. Kesolidan kelas akan memudahkan pencapaian prestasi oleh mahasiswa, karena mahasiswa yang telah berhasil akan rela membantu teman-temannya yang belum berhasil untuk mencapai hasil yang optimal pula. Kondisi saling ber-empati akan terwujud jika mahasiswa dalam keadaan fun dan tidak dalam kondisi tertekan. Dengan demikian, pembelajaran juga akan berlangsung lancar, dan mahasiswa dapat mencapai hasil belajar secara optimal.


F. JALAN MENUJU SUKSES - TEMUKAN KEBUTUHAN DAN PENUHI
SUKSES ….. ?!!!Menurut Anda, apakah yang Anda maksud sebagai kesuksesan ? Kalau boleh saya simpulkan, kita semua setuju bahwa sukses berarti kita mencapai apa yang telah kita targetkan ( visi ), baik itu dalam segi pendidikan, karir, keuangan, pasangan, dan setiap aspek hidup kita. Kita dinilai sukses jika kita dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik, atau memiliki pekerjaan yang kita anggap baik, atau juga jika kita berhasil membangun keluarga yang harmonis. Tentunya segala sesuatu yang sudah kita targetkan dari semula bukan?
FIND THE NEED THEN FILL IT …….. Apa yang menjadi kebutuhan mereka ….. JAWABLAH KEBUTUHAN MEREKA. Orang yang sedang haus tidak akan mungkin mencari sepotong roti untuk menghilangkan rasa hausnya bukan? Maka , berikanlah mereka segelas air, dan mereka akan datang pada Anda. Orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda ketahui sampai mereka tahu seberapa jauh Anda peduli. Semua ini adalah masalah hubungan. BAGAIMANA MELAKUKANNYA …. ??? Yang menjadi masalah adalah bahwa kita seringkali tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengembangkan sebuah hubungan yang baik. Apa yang dapat kita perbuat untuk dapat mengembangkan sebuah hubungan yang baik … ? Kita seringkali tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengembangkan sebuah hubungan yang baik.
1. Memahami Orang Lain Kualitas pertama dari seseorang yang dapat menjalin hubungan baik dengan sesama adalah memahami perasaan serta pikiran orang lain.
Mereka suka merasa diistimewakan, maka berikanlah pujian yang tulus.
Mereka menginginkan hari esok yang lebih baik, maka berikanlah mereka pengharapan. Mereka egois, maka dahulukanlah kepentingan mereka.
Mereka bisa jatuh secara emosional, maka berikanlah dorongan kepada mereka.
Dengan menyadari kebenaran – kebenaran ini, kita harus mampu memperlakukan orang lain sebagai individu. Kemampuan memandang masing – masing orang, memahaminya, dan menjalin hubungan dengannya adalah faktor utama dalam sukses menjalin hubungan dengan sesama.
2. Mengasihi Orang Lain Kita harus memiliki empati terhadap orang lain dan menemukan sisi terbaik dalam diri seseorang … bukan yang terburuk … dengan bersikap benar – benar peduli terhadap orang lain. Kita tidak dapat benar – benar menjawab kebutuhan seseorang, jika kita tidak benar – benar mengasihi orang tersebut. Albert Einstein pernah berkata, “Situasi kita di bumi ini memang aneh. Namun dari sudut pandang kehidupan, ada satu hal yang kita ketahui : bahwa manusia ada di bumi demi kepentingan manusia lainnya.“
3. Membantu Orang Lain Seseorang akan hormat kepada orang yang mengutamakan kepentingan mereka. Jika fokus Anda adalah apa yang dapat Anda berikan kepada orang lain ketimbang apa yang dapat Anda peroleh dari mereka, mereka akan mengasihi dan hormat kepada Anda – dan semuanya ini akan menciptakan landasan yang baik untuk membangun hubungan.


G. 10 ( Sepuluh ) TIPS EMPATI

Berikut ini adalah 10 tips yang cukup sederhana untuk memuluskan jalan Anda menuju keberhasilan dan kesuksesan. 10 tips ini adalah tips-tips yang terbilang mudah untuk dilatih dan diimplementasikan. Semuanya powerful dan sangat membantu untuk kepentingan stabilitas emosi di tengah cuaca dan musim yang gak karuan seperti sekarang.

1. MULAILAH DENGAN CERDAS LITERASI
Maksudnya, perkayalah vocabulary emosi Anda dengan berbagai kata-kata yang
erat hubungannya dengan perasaan. Menurut sejumlah sumber, daftar "perasaan"
itu ada sekitar 200-an kosa kata. Kemudian, biasakanlah mengatakannya secara
eksplisit atau implisit, dalam cara yang "gue banget".
Berilah label pada perasaan Anda dan bukan pada orang atau situasinya.
Gunakanlah kata-kata perasaan se-spesifik mungkin.

*"Aku ngerasa udah nggak sabar nih."*

bukan

*"Ini udah keterlaluan."*

*"Ndengerin kamu, aku kok merasa sakit hati ya."*

bukan

*"Kamu emang nggak sensitif deh."*

*"Heehh... gua jadi ngeri nih!"*

bukan

*"Elu nyupir udah kayak oran gila!"*

*"Saya kok merasa tidak enak hati ya,"* bukan seperti kalimat pertama Saya
di atas.

Dengan cerdas emosi secara literasi, Anda akan menjadi lebih mudah memahami,
menyelami, dan mengontrol emosi Anda pribadi.

2. BEDAKAN PIKIRAN DARI PERASAAN

Pikiran:

*"Saya merasa seperti..."
"Saya merasa seolah-olah..."
"Saya merasa bahwa..."*

Perasaan:

*"Saya merasa..."*

Gunakan secara langsung kata-kata perasaan yang terkait dengan perasaan
Anda. Hilangkan kata penghubungnya.

Dengan lebih mampu membedakan pikiran dari perasaan, Anda akan menjadi lebih
yakin dengan berbagai jawaban, inspirasi, keputusan dan tindakan Anda
sendiri.

3. BERTANGGUNGJAWABLAH UNTUK PERASAAN ANDA

*"Aku merasa cemburu."*

bukan

*"Engkau membuatku cemburu."*

Yang cemburu adalah diri Anda sendiri. Yang menciptakan perasaan cemburu
adalah emosi Anda sendiri. Bukan orang lain, bukan situasi atau keadaan.

*"Saya merasa marah karena perbuatan kamu!"*

bukan

*"Perbuatan kamu membuat Saya marah!"*

Yang marah adalah diri Anda sendiri. Yang menciptakan kemarahan adalah emosi
Anda sendiri. Bukan orang lain, bukan situasi atau kejadian.

Dengan bisa bertanggungjawab untuk emosi Anda, Anda akan lebih independen,
lebih mandiri, dan lebih percaya diri.


4. GUNAKAN PERASAAN UNTUK MENGAMBIL KEPUTUSAN

Tips yang satu ini bisa cukup berbahaya. So untuk latihan awal, sebaiknya
Anda TIDAK KELUAR dari kerangka berikut ini.

*"Apa yang akan Saya rasakan jika Saya melakukan ini?"
"Apa yang akan Saya rasakan jika Saya tidak melakukannya?"*
Dengan terlatih jernih dalam melibatkan perasaan di dalam mengambil
keputusan, Anda akan terlatih lebih baik untuk mengambil keputusan dalam
cara yang lebih presisi. Intuisi Anda akan bisa diandalkan dan tidak akan menyesatkan.
5. DEMONSTRASIKAN PENGHARGAAN TERHADAP PERASAAN ORANG

Bukan hanya menghargai, tapi lebih dari itu demonstrasikanlah penghargaan
Anda terhadap perasaan orang lain.

*"Apa perasaan kamu kalo aku pilih yang ini?"
"Apa perasaan Anda jika Saya tidak melakukannya?"*

Dengan menghargai emosi orang lain, orang lain juga akan menghargai emosi
Anda. Dengan mendemosntrasikannya kepada orang lain, orang lain juga akan
mendemonstrasikannya untuk Anda.

6. FEEL THE ENERGY NOT THE ANGRY

Manfaatkanlah apa yang disebut orang dengan "marah", sebagai alat bantu dan
motivasi untuk bertindak produktif.

Belajarlah untuk mahir memisahkan "sebab kemarahan" dari "energi kemarahan".
Saat Anda berhasil, Anda bisa melupakan sebabnya dan memanfaatkan energinya.

Cara yang mudah adalah dengan menjadikan apa yang pasti pernah Anda katakan
ini menjadi sebuah skill. Sadarilah saat Anda mengatakannya. Latihlah
mengatakannya dalam konteks positif.

*"Awas ya..."
"Liat nanti..."
"Pada suatu saat..."
"Liat gue dua tahun lagi..."*

Tempatkanlah ungkapan di atas dalam kerangka positive thinking, supaya
energinya juga positif.
Dengan mampu mengelola energi emosi, Anda akan mendapatkan "turbo charge"
untuk perjalanan Anda menuju sukses. Emosi Anda tidak lagi destruktif, ia
telah menjadi bahan bakar.


7. VALIDASI PERASAAN ORANG

Bukan hanya penghargaan, tapi juga tunjukkan bahwa perasaan orang lain itu
memang "ada".

Tunjukkan empati, simpati, pengertian, dan PENERIMAAN akan keberadaan
perasaan orang lain.

Latihlah kemampuan ber-empati dan ber-simpati Anda.

Jika Anda bisa menemukan bahwa emosi orang lain memang ada, maka mereka juga
akan menemukan bahwa emosi Anda pun ada.

8. AMBIL NILAI POSITIF DARI BERBAGAI EMOSI

Latihlah paket-paket pertanyaan ini.

*"Bagaimana rasanya?"* dan *"Apa yang bisa membuat Saya merasa lebih baik?"*

*"Bagaimana perasaan Anda?"* dan *"Apa yang bisa membuat Anda merasa lebih
baik?"*

Dengan terbiasa mengambil nilai positif, Anda akan makin pandai
"menyamankan" perasaan Anda. Dengan perasaan yang nyaman, Anda akan bisa
berjalan dengan melenggang.

9. BELAJARLAH MENDENGAR

DENGARLAH dengan EMPATI tanpa PENGHAKIMAN.

Mendengar, adalah keahlian yang paling sulit untuk dikuasai.

Dengan kemampuan mendengar yang lebih baik, orang lain akan lebih
mendengarkan Anda.


10. HINDARI MEREKA DAN APA YANG MENYIKSA PERASAAN ANDA

Tentu saja, ini tidak bisa selalu Anda lakukan, tapi setidaknya, kurangilah
kebersamaan Anda bersama mereka. Atau, cobalah berbagai cara agar Anda tidak
berada di bawah kekuasaan psikologis mereka.

Cara yang paling tokcer, adalah "balas kejahatan dengan kebaikan." Dan dalam
banyak hal, Anda pasti lebih mudah melakukannya. Dengan pilihan ini, Anda
malah tidak menghindar tapi menghadapi dengan tenang. Alias, bersabar.

Menerima kiriman spam? Ya tinggal dihapus saja, nggak perlu marah.
Diejek orang? Senyum aja, walaupun kecut.



SARAN

Penulis,dalam hal ini menghimbau kepada siapa saja yang membaca tulisan ini agar dapat mengambil segala manfaat atas penulisan makalah ini.Terutama bagi yang masih menuntut ilmu dalam jenjang pendidikan formal,karena menurut penulis ,dengan EMPATY yang tinggi,kita telah membuka suatu jalan untuk kesuksesan diri kita dan juga dapat membantu orang-orang di sekeliling kita untuk menuju kesuksesan



KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas,kita bisa menarik kesimpulan bahwa EMPATY sangat dibutuhkan bagi setiap orang agar cita-cita dan keinginannya untuk sukses dapat tercapai.
EMPATY dapat kita pelajari melalui jalur formal atau pun dalam kehidupan sehari-hari.Apalagi bagi kita dari kalangan MAHASISWA yang masih dalam menuntut ilmu,sangat di perlukan empaty dalam pembelajaran.Karena,jangan terlalu berharap kita akan mendapatkan nilai yang memuaskan apabila dalam langkah-langkah kita sedikit pun tak mempunyai rasa EMPATY yang tinggi.
Jadi,kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa EMPATY sangat penting dalam menunjang kita tuk menuju kesuksesan.

0 komentar:

Poskan Komentar